ASN Waspada! Terlibat Dukung Manufer, Camat Raba Jadi Tersangka

0
364
Camat Raba H. Surfil, SH, MH (Magister Hukum) saat dimintai keterangan oleh Penyidik terkait dugaan keterlibatan politik praktis di Kelurahan Kendo.

Kota Bima, Inside Pos,-

Warning! Bagi, Aparatur Sipil Negara ASN) Kota Bima-NTB menjelang Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota, agar tidak terlibat melakukan politik praktis. Jika tetap bandel,  maka ASN harus duduk di Kursi pesakitan untuk diadili bahkan akan dipenjara ataupun didenda. Terlebih lagi, sikap ASN yang melibatkan diri, jelas akan mencoreng nama baik ASN itu sendiri serta institusi Pemerintah Kota Bima.

Situasi memalukan ini, beberapa hari lalu dialami langsung oleh ASN yang menjabat sebagai Camat Raba, H. Surfil, SH, MH. Pejabat Kota Bima ini mau tidak mau harus menerima sanksi pidana karena ikut terlibat politik praktis.

Magister Hukum ini bak artis beberapa hari ini. Ia menjadi buah bibir warga Kota Bima, sejak foto dan video gambar jelas dirinya saat memberikan dukungan dan mengajak warga untuk  mendukung pasangan Manufer (Aji Man dan Umi Ferra).

Kejadian yang menyeret Camat Raba ini, bermula ketika pasangan Manufer berkunjung di Kelurahan Kento beberapa waktu lalu. Tanpa beban, Camat yang harusnya tauladan bagi warga dan bawahannya itu hilang kendali. Dengan semangatnya ia memberikan dukungan bersama beberapa warga. Akhirnya, Tim Paslon lain anggap ulah camat itu melampaui batas, mereka langsung melaporkan ke Panwaslu Kota Bima.

Setelah dilakukan pemeriksaan  untuk mengambil keterangan oleh Panwaslu, akhirnya dilimpahkan ke GAKUMDU (Tim Gabungan Panwaslu dan Polres Bima Kota)  karena dianggap sudah memenuhi unsur pelanggaran Pidana. Benar saja, beberapa waktu dilakukan penyelidikan dan melakukan gelar perkara, akhirnya Camat Raba ditetapkan jadi Tersangka

“Kami sudah melakukan  pemeriksaan secara maraton. Dari hasil bukti permulaan itu dan kami kembangkan, pak Camat layak kami jadikan tersangka. Unsur pidana sudah terpenuhi.  Tapi kami tidak menahan dulu. Namun, ancaman hukumannya  minimal satu bulan kurungan-maksimal 6 bulan kurungan serta denda minimal Rp600 ribu-maksimal Rp6 juta,” beber Ketua Tim Pemeriksa (Katim Riksa), Ipda Dediansyah di Mapolres Bima Kota, Senin (5/3/2018).

Lanjut Dediansyah, Dari hasil pemeriksaan serta keterangan dihadapan penyidik, Camat Raba tidak bisa mengelak dan mau tidak mau harus berkata jujur dihadapan penyidik.
“Selama proses pemeriksaan berlangsung, Camat Raba mengakui semua perbuatannya. Dan seluruh pertanyaan penyidik dijawab dengan jujur. Kami melakukan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan selama beberapa jam, dan hal itu dilaksanakan di ruang Tindak Pidana Tertentu (Tipiter),” akunya

Kanit Pidum Polres Bima Kota ini juga menjelaskan, pelanggaran yang dilakukan oleh Camat tersebut bukan saja mengenai aturan ASN. Tetapi, juga terkait tindak pidana yang berkaitan dengan Pilkada.

“ ada pelanggaran yang kami nilai dari perbuatan camat ini. Diantaranya,   pelanggaran soal keterlibatan ASN dalam politik praktis, itu menjadi kewenangan Pimpinannya. Sementara pelanggaran terkait politik praktis tersebut, kasusnya akan terus berjalan sampai putusan Pengadilan. Yang jelas, kasus ini akan segera kami limpahkan ke Kejaksaan guna mempercepat proses persidangannya ke Pengadilan Negeri (PN) Raba-Bima,” janjinya.

Sebelumnya, beberapa ASN di Kota Bima menjadi daftar hitam panwaslu Kota Bima karena dikabarkan terlibat politik praktis. Diantaranya oknum Lurah Ntobo berinisial Sarif dan Muktadin ST salah satu Kabid di SKPD Kita Bima. Hanya saja setelah dilakukan pemeriksaan terhadap keduanya, unsur pelanggarannya hanya menyangkut ketentuan tentang ASN. sebagaimana disebut dalam Pasal 2 huruf f Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang  setiap ASN tidak berpihak dari segala pengaruh manapun dan tidak memihak kepada kepentingan siapapun. “Selanjutnya, Tim akan mengeluarkan rekomendasi terkait kedua oknum ASN tersebut kepada Pimpinannya untuk di tindaklanjuti,” tuturnya.

Sementara itu, Camat Raba, H. Surfil, SH, MH yang dimintai komentarnya melalui saluran selulernya pada Senin (5/3/2018), memilih untuk tidak berkomentar banyak.  justeru Camat Raba meminta wartawan untuk hubungi polisi tekait bagaimana perasaan setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus itu.
“Untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana perasaan saya setelah ditetapkan sebagai tersangka, kalau bisa silahkan adinda hubungi pihak Kepolisian. Sebab, saya ini sudah tidak bisa bekata apa-apa lagi. Saya minta pengertiannya,” katanya singkat dengan nada lemah
Inside I

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here