Bang Zul “Pendobrak Politik Primordialisme Pulau Lombok”

0
512

Jakarta, Inside pos

Opini: Di Tulis Oleh Fadlin Guru Don (Pemerhati Pulau Sumbawa)
Dosen Universitas Mercu Buana Jakarta

Pemilihan Kepala Daerah serentak tahun 2018 di seluruh Indonesia telah usai dilaksanakan. Pilkada serentak kali ini yang diselenggarakan di 171 daerah (17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota) tampaknya lebih menarik ketimbang pilkada serentak 2017.

Dinamika pilkada serentak setahun yang lalu tenggelam lantaran didominasi ingar- bingar pemilihan gubernur Jakarta yang diwarnai isu serta sentimen berbasis SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan).

Begitu ramai pemberitaan dan perbincangan masyarakat terkait tarik-menarik pasangan calon dalam Pilgub Jakarta sehingga seolah-olah Pilkada 2017 hanya berlangsung di ibu kota negara.

Padahal disaat yang sama, pilkada berlangsung secara serentak di 101 daerah yang mencakup 7 provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota di Indonesia. Namun pada tahun ini antusias dan partisipasi aktif masyarakat diseluruh indonesia mulai dari sabang sampai merauke begitu tinggi. Ini memperlihatkan bahwa demokrasi kita semakin baik.

Jika para elit bangsa di negeri ini lebih suka membahas arah politik yang bersifat Nasional, maka kali ini penulis ingin lebih kerucut pada propinsi kecil yang terkadang tidak menjadi target utama sebagai penentu kemenangan Pilpres 2019.

Tetapi harus di akui bahwa NTB saat ini menjadi propinsi yang namanya sedang populer diperbincangkan dimana-mana. Propinsi yang telah tersedia sumberdaya alam yang begitu kaya dan panorama keindahan yang juga sangat mengagumkan. Disaanlah letaknya surga Indonesia saat ini.

*Bang Zul Sang Pendobrak

Jika pilkada ditahun 2017 kemarin, semua orang menyebut nama Anies Baswedan, maka tahun ini masyarakat NTB hampir semua menyebut nama Dr. Zulkieflimanyah atau yang akrab disapa dengan Bang Zul. Bagaimana tidak, dia adalah pemahat nalar kritis masyarakat Nusa Tenggara Barat.
Propinsi NTB sangat disayangkan harus di pimpin oleh orang yang kompetensinya biasa saja, mengingat sumber daya alam dan potensinya yang hebat. Idealnya memang harus dipimpin oleh seorang yang yang cerdas baik didunia akademik maupun didunia pemerintahan. Misalkan saja, di Sulawesi Selatan Pilkada tahun ini di menangkan oleh seorang Profesor lulusan Luar Negeri, yaitu Profesor Nurdin Abdullah. Selama dua periode jadi Bupati, dia telah berhasil menyulap Kabupaten Bantaeng seperti Negeri Sakura Jepang. Mungkin Inilah bukti empiris kenapa masyarakat Sulawesi selatan menginginkan gubernur baru. Dia telah berhasil mengambil alih kekuasaan dari tangan Dinasti yang orang sebut dengan dinasti Yasin Limpo. Ini Cukup bukti, bahwa kepemimpinan yang dilahirkan demokrasi tidak bersyarat pada keturunan raja atau bangsawan.
Penulis tidak bermaksud menyandingkan Profesor Nurdin dengan Dr. Zul tetapi mereka berdua memiliki kesamaan baik di akademik maupun di pemerintahan. Mereka sama-sama lulusan Luar Negeri, sama-sama menjadi staf pengajar di Universitas ternama di Indonesia bahan di kampus-kampus hebat luar negeri. Selain kemampuan akademik, di dunia pemerintahan mereka juga sama-sama memiliki segudang pengalaman dan berhasil menorehkan sejumlah prestasi yang telah diakui oleh semua khalayak.

Selama Pilkada langsung, Propinsi NTB hampir tidak pernah dipimpin oleh putra daerah diluar Pulau Lombok. Kenyataan ini sangat logis, karena selain jumlah penduduknya yang sangat besar, juga masyarakatnya bersatu. Hal lain yang sangat identik dengan Lombok adalah politiknya yang bersifat primodialistik, bisa dibilang posisi orang lombok bagi NTB sama dengan posisi orang Jawa bagi Indonesia.

Maka prinsip itulah yang membuat mereka sulit dan ikhlas menyerahkan kekuasaan kepada orang lain. Sepertinya unsur primodialime sudah mendarah daging bagi masyarakat lombok. Rasanya sesuatu yang mustahil jika kepemimpinan NTB harus berpindah tangan kepada orang Sumbawa atau Bima.

Ajaib, ternyata yang terjadi pada Pilkada tahun ini sangat mengejutkan dan menguji adrenalin masyarakat NTB, karna putra asli Pulau Sumbawa telah memecakan takdir politik Primordialisme ‘pulau lombok’.

Apakah iya, masyarakat NTB sudah mulai cerdas? tentu sebagian orang mengatakan iya, tetapi bagaimana dengan yang lain?
Banyak Fenomena lain yang tertangkap cukup kuat di balik keunggulan Bang Zul di pentas demokrasi tahun ini, yaitu selain keterlibatan partai pengusung yang terus memberi insentif perluasan basis dukungan, juga keberadaan sejumlah tokoh tersohor NTB cukup mendongkrak kemenangan Zul-Rohmi, seperti misalnnya Tuan Guru Bajang.
Disamping itu, yang tak kalah utama adalah sosok dirinya yang berkarisma dan berwibawa. Tutur katanya yang santun, gaya bicaranya yang khas, komunikasinnya yang merakyat, begitu melekat pada dirinya. Inilah yang menjadikan dia idola baru di Nusa tenggara Barat.
Bang Zul adalah sosok muda yang progres dan inovatif, yang telah hadir menawarkan solusi dan rasa Keadilan dari sekian banyak masalah yang ada di NTB. Baik kesenjangan sosial maupun dari aspek pembangunan sumberdaya manusia dan infrastuktur.

Disamping itu, yang menentukan kemenangan Zul-Rohmi menurut penulis, adalah karena visi-misinya yang lebih menjawab kebutuhan masyrakat ketimbang yang lain. Salah satu sample, pembangunan khusus yang bergerak dibidang pendidikan misalnya, Dr. Zul memiliki program menyediakan beasiswa program studi lanjut bagi putra-putri terbaik Nusa Tenggara Barat.

Menurut penulis ini sangat menarik, jika selama ini yang di prioritaskan adalah pembangunan infrakstruktur, tetapi Bang Zul justru tampil beda. Beliau sesungguhnya mengutamakan pendidikan, karna sumber daya manusia jauh lebih penting daripada segalanya.

“Manusia yang cerdas lebih tau memberdayakan dirinya daripada manusia yang bodoh. Orang bodoh terkadang membuat harta benda yang melimpah tidak mermanfaat apa-apa, tetapi bagi orang yang cerdas, cukup dengan ilmu pengetahuan dia bisa mendapatkan harta yang melimpah”. FGD

Selain itu, program andalan Bang Zul yang meningkatkan elektabilitasnya, adalah dia mendorong energi terbaru dalam menuntaskan kebutuhan air bersih dan irigasi pertanian, sebagai bentuk perhatian langsung Bang Zul dalam menuntaskan masalah pokok yang ada di NTB. Ditambah dengan program-program lain yang sifatnya pro rakyat, juga menjadi faktor utama terpilihnya Bang Zul sebagai pemenang di pilkada NTB.

Jika selama ini masyarakat lombok dianggap “murtad” bila tidak mengangkat pemimpin dari suku asli mereka, maka kali ini sungguh berbeda, justru masyarakat Lomboklah yang menjadi penentu utama kemenangan Zul-Rohmi. Misalanya, di Kabupaten Lombok Timur yang merupakan lumbung suara terbanyak dari seluruh Kabupaten Kota se-NTB dimenagkan secara mutlak oleh Pasangan Zul-Rohmi, padahal disitu adalah tempat kekuasaan H. Moch. Ali Bin Dachlan, yang juga merupakan lawan tandingnya di pilgub NTB tahun ini. Hal yang sama juga di beberapa kabupaten lain yang ada di Pulau Lombok, dengan jumlah rata-rata pasangan Zul-Rohmi juga dominan mendapat dukungan. Ini sekaligus menggugurkan bahwa untuk menjadi pemimpin NTB tidak seharusnya dari kalangan Ulama dan Tuan Guru, tetapi sangat bergantung pada figur yang tulus dan ikhlas dalam berbuat.

Sepertinya masyarakat NTB mulai cerdas dalam memilih pemimpin. Tidak hanya memandang pada unsur primodial dan elektoral semata, tetapi lebih condong pada syarat dan kriteria. Sebagai kesimpulan, dari ke-empat Calon Gubernur, terbukti bahwa Dr. Zulkieflimanyah lah yang memenuhi syarat kriteria ideal untuk memimpin NTB lima tahun kedepan.

Prosesi Pilkada Propinsi NTB mungkin tidak seindah ini, jika kita harus melupakan unsur penting yang ikut mewarnai dinamika pesta demokrasi kali ini, yaitu peranan para pemuda. Keterlibatan pemuda-pemudi NTB cukup menjadi lampu penerang dalam membantu mengontrol dan mengawal hajatan rakyat selama ini.

Hal ini cukup terlihat dari sejumlah diskusi dan dialog yang dibangun oleh generasi muda dalam membantu mengedukasi pendidikan politik kepada masyarakat luas.

Menurut Penulis Politik adalah cara untuk menguatkan, mempersatukan, serta panggung perjuangan dalam melunasi cita-cita luhur kemerdekaan Indonesia. Karena politik merupakan alat paling efektif untuk membuat sebuah perubahan dan kemajuan bagi bangsa dan negara.

Demi mewujudkan perubahan maka, sejatinya pemuda harus ikut andil dalam merespon perubahan. jika mereka bersikap apatis maka dipastikan akan sulit kita temukan pemuda seperti Sultan Syahrir yang dengan berani memaksa Soekarno-Hatta untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Ditengah krisis kepercayaan masyarakat kepada pemuda saat ini, justru pemuda di NTB terlihat berbeda. Animo dan hasrtanya untuk ikut memeriahkan pilkada tahun ini sangat tinggi. Ada satu kesamaan misi untuk secara bersama-sama membangun, sehingga NTB menjadi propinsi yang layak diperhitungkan oleh daerah lain. Sekiranya penulis bisa berkesimpulan bahwa pemuda NTB adalah luar biasa.

*Adu Penalti Dua Putra Pulau Sumbawa

Keberhasilan putra asli Pulau Sumbawa dalam mengambil alih kepemimpinan NTB dari tangan suku sasak Lombok sangat menarik untuk dibahas. Ada dua putra terbaik pulau Sumbawa yang ikut serta dalam parcaturan politik NTB. Sebut saja Zulkieflimansyah dan Mori Hanafi. Mereka masing-masing berada diujung barat dan timur pulau sumbawa.

Banyak yang menganggap bahwa Kolaborasi Bang Zul dan Rohmi adalah duet maut dua Doktor yang diyakini bisa menciptakan perubahan baru di NTB, ditambah lagi dengan tagline melanjutnya ikhtiar kepemimpinan Tuan Guru Bajang yang belum tuntas. Sedangkan paket Ahyar-Mori yang mencerminkan keseimbangan keterwakilan etnis di NTB, mengedepankan persatuan, dan mengedepankan aspek pemerataan pembangunan sebagai upaya pemersatu sesama warga NTB.

Upaya memperkenalkan kedua sosok
ini sangat masif dibangun oleh sejumlah kalangan, baik oleh kelompok-kelompok elit maupun masyarakat biasa. Tidak lepas juga dari para akademisi, tim sukses, dan pemerhati pulau Sumbawa. Masing-masing pendukung terus berusaha maksimal dalam meminang hati pemilih, terutama dilumbung-lumbung suara yang ada di kabupaten/kota pulau Sumbawa.

Suara di Sumbawa Besar dan Kabupaten Sumbawa barat sudah barang tentu dimiliki oleh Bang Zul, maka menurut penulis tidak perlu untuk dibahas. Tetapi di Kabupaten/Kota Bima dan Kabupaten Dompu menjadi batu uji utama dari kehebatan kedua putra terbaik pulau Sumbawa ini.
Sesungguhnya Bang Zul bagi publik “Suku Mbojo” adalah orang baru yang bisa dibilang hanya datang bertamu, ketimbang ketenaran dari figur putra asli Bima Bang Mori Hanafi. Walau demikian, Bang Zul telah sampai pada puncak perhitungan sementara berada pada ururan suara terbanyak nomor kedua dari saudara sepulaunya Mori Hanafi, yang menempati posisi pertama.

Selisih keduanya tidak begitu signifikan, kisarannya hanya sekian persen saja. Jika kita perhatikan bahwa di beberapa kecamatan yang ada Bima-Dompu ada yang diungguli oleh pasangan Zul-Rohmi. Ini memperkuat bahwa politik tidak selalu berbanding lurus dengan dukungan elektoral dan etnis.
Setiap para pendukung selalu mengunakan semboyang masing-masing. Misalnya Mori Hanafi sangat kental dengan istilah “Kasama Weki Ndai Mbojo”, kalimat pamungkas ini menjadi senjata andalan tim pemenangan Mori untuk menyadarkan masyarakat Bima-Dompu. Tetapi pada kenyataanya bahwa slogan itu tidak cukup mendulang kemenangan Mori Hanafi dikandagnya sendiri.

Lalu bagaimana dengan eksistensi Bang Zul, senjata apa yang dia pakai sehingga mampu menghipnotis masyarakat Bima-Dompu? Apakah beliau menggunakan sihir? Benar, beliau telah mampu menyihir masyarakat Bima-Dompu dengan segala macam program yang pro rakyat.

Tanpa mengungguli Bang Zul penulis menilai bahwa Bang Zul lah pemenangnya. Ibarat kata “seorang ustadz naik mimbar itu biasa saja, tetapi bila dilakukan oleh seorang Fisikawan, itu baru luar biasa”. Kira-kira seperti itulah perumpamaan antara Bang Zul yang datang sebagai tamu dibandingkan dengan Mori Hanafi sebagai tuan rumah.
Dari kenyataan diatas, tentu mengundang hasrat kita untuk bertanya, kenapa Mori Hanafi tidak cukup kuat mendominasi suara masyarakat Bima-Dompu, sementara Bang Zul lebih terlihat berhasil?

Bisa saja istilah “Kasama Weki Ndai Mbojo” yang digaungkan Mori belum merepresentasi kenyataan yang ada selama ini, bahwa kepentingan orang Bima tidak terakomodir secara merarata seperti slogan tersebut. Berdasarkan jajakan pendapat yang dihimpun oleh penulis baik kepada tokoh-tokoh penting, birokrat, akademisi, maupun mahasiswa, banyak yang berasumsi bahwa dominasi kekuasaan selama ini berada pada sekolompok orang-orang tertentu.

Hampir diseluruh sektor yang ada semua terisi oleh kepentingan bersifat dikotomi. Ada semacam gerbong sakit hati yang mencoba mendobrak langkah kelompok-kelompok tersebut.
Lantas kenapa Bang Zul terlihat seperti “Superman” yang datang menawarkan rasa keadilan buat masyarakat pulau Sumbawa khususnya untuk Bima dan Dompu. Selain programnya yang berpihak pada kebutuhan pokok rakyat, banyak juga yang menilai bahwa kapasitasnya sebagai orang nomor satu akan membuatnya lebih bisa berbuat banyak untuk masyarakat pulau Sumbawa. Ketimbang kapasitas Mori Hanafi sebagai orang nomor dua yang otoritasnya sangat kecil dibawah kendali seorang gubernur.

Alasan ini masuk akal, karna harus diakui bahwa yang memiliki kebijakan mutlak adalah seorang gubernur sementara wakilnya lebih banyak duduk dikantor.
Sebagai kalimat penutup Selamat kepada Bang Zulkieflimansyah, telah terpilih sebagai Gubernur baru NTB versi Perhitungan sementara Quick Count.

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here