Sungai Dalam Desa, Bima Ramah dan 73 Tahun Indonesia Merdeka

0
386

Oleh: Satria Madisa (Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mataram)

Bima, Inside Pos,-

Pertaruhan politisi, pemimpin, yang paling banyak dipentaskan iyalah pembangunan dan keadilan. Ada keragaman janji, senyum lebar dan manis, serta eksplorasi visi. Tentu, objeknya, kepentingan masyarakat dan pembangunan.

Masyarakat iyalah penikmat. Penikmat janji, senyum, dan visi. Tentu ada dalam teks, kampanye, baliho, dan sosial semu. Semacam tugas pokok masyarakat dalam berdaerah iyalah menerima janji-janji. Pada poin ini, masyarakat iyalah laboratorium cinta. Dengan dalil keberterimaan.

Tugas pokok pemerintah daerah iyalah memasarkan janji. Mengkampanyekan visi, dan bersedekah senyum. Maklum saja, janji, visi, dan senyum berhubungan satu dengan lainnya. Tanpa tiga aitem, tentu tidak bisa terpilih. Menjadi Bupati atau menjadi legislator.

Tugas pokok rakyat dan pemerintah bertemu dan saling melegitimasi. Masyarakat maupun pemerintah sama-sama terikat kepentingan yang sama. Pemimpin perlu mengesplorasi janji diruang publik, masyarakat lebih-lebih. Karena janji paradigma politik masyarakat akan beragam. Dan biasanya, yang banyak mengumbar janji pembangunan dan kesejahteraan itulah pemerintah kita sekarang. Karena lebih banyak dipilih masyarakat.

Bima Ramah diskursus visi yang kontekstual. Dari berbagaimacam perspektif kebutuhan daerah terhadap pembangunan. Religius, Aman, Mandiri, dan Handal (RAMAH) dipandang sebagai ide pengatur, sistem nilai, dan tujuan ideal kepemimpinan Umi Dinda dan Pak Dahlan. Pembangunan dan pengembangan Bima hendak dicapai dengan keramahan. Dari awal penulis ungkapkan, visi semacam ramah, kebutuhan pembangunan dan jalan keluar dari ketidakramahan Bima.

Tiga tahun Umi Dinda dan Pak Dahlan (Bima Ramah) tentu sudah banyak ikhtiar pembenahan kultural dan sistemik dalam memimpin Bima. Bahkan prestasinya bisa dilacak jejak digitalnya. Diantaranya LKPJ 2016 dan 2017. Bahkan, menurut penulis, diskursus Bima sebagai Kabupaten Literasi merupakan loncatan paradigma yang kontekstual, sebagai bentuk penerjemahan visi ramah. Ini, langkah gemilang yang perlu kita apresiasi.

Tentu ada catatan kritis dan ketimpangan Bima Ramah. Diusia senjanya. Ketimpangan yang tidak mungkin dilaporkan di LKPJ Bupati, bahkan diungkapkan diruang publik, sebagaimana prestasinya. Ketimpangan yang akan terus hidup pada nalar publik Bima yang acap kali jadi korban. Persoalan korupsi, nepotisme, dan konflik sosial yang mewarnai perjalanan Bima Ramah.

Sungai dalam desa merupakan istilah yang penulis gambarkan pada ketimpangan di Desa kala Kec. Donggo. Yang mungkin dirasakan Masyarakat Desa Doridungga, Masyrakat Desa Punti Kec. Soromandi, dan semua masyarakat desa sekabupaten Bima yang belum disentuh oleh lipstik dan gincu kebijakan Pemerintah Daerah. Iya, jalan yang masih kasar, keras, dan berbahaya untuk dilalui oleh kendaraan. Jalan yang belum diaspal.

Jalan lintas dari dusun Toke dan Dusun Manggekompo Desa Kala belum diperhatikan oleh Pemda. Mulai dari sejarah kabupaten Bima sampai tiga tahun Umi Dinda dan Pak Dahlan. 73 Tahun Indonesia merdeka, Desa Kala belum merdeka. Fakta ataukah Fiktif, Umi Dinda dan Pak Dahlan bisa jalan-jalan kesini, ada sungai dalam desa yang sekiranya destinasi wisata alternatif. Bisa juga menggandeng Pak Kadis PUPR, PMDes, dan wakil kami di parlemen daerah!.

Sama seperti watak kekuasaan umumnya, masyarakat desa hanya disuguhi senyum, janji, dan visi. Dan menikmati sebagaimana mestinya. Disetiap momentum politik praktis, pemilihan bupati, legislator, bahkan sampai pilgub. Atas nama kepentingan keadilan dan pembangunan.

Seperti halnya, Umi Dinda, Pak Dahlan, Pak Dewan rakyat, Pak Kadis disetiap hari dinasnya dan atau aktivitas sehari, ingin terlihat cantik, tampan, anggun, menarik, dan nyaman. Pasti butuh lipstik, gincu, dan parfum. Begitulah kira-kira optimisme masyrakat desa terhadap pengaspalan jalan. Apa susahnya memberi gincu dan lipstik terhadap jalan (Desa Kala) yang belum sama sekali disentuh oleh kebijakan pemda?. Ataukah narasi “memangkas” optimisme masyarakat desa masuk dalam visi terselubung pemerintah daerah?. Atuakah memang hobi Pemda membiarkan masyarakat desa hidup menikmati manisnya janji, dan terus menerus jadi garapan janji politik?.

Hari ini, (17/8) Indonesia merayakan hari kemerdekaanya. Sebagai tanda dan penghormatan. 73 Tahun Indonesia merdeka. Kegiatan yang selalu kita rayakan tiap tahun. Suka cita, pagelaran upacara bendera sang saka yang menggema. Didarat, laut, dan udara. Suatu ijtihad merenungi dan merefleksi kemerdekaan. Mulai dari Istana Negara, sampai kec. Donggo perayaan kemerdekaan dilakukan.

73 Tahun Indonesia merdeka, tiga tahun bima ramah, tapi masih ada sungai dalam Desa. Sungai dalam desa di Desa Kala. Desa Kala belum merdeka, Desa Kala belum ramah. Sungai dalam desa perlu diaspal.

Umi Dinda, Kami masyarakat Desa Kala butuh kado dari perayaan kemerdekaan, dan Bima Ramah. Kami Butuh jalan desa kami diaspal. Kami optimis, Umi Dinda tidak ingin masyarakat kami tergarap dan jadi korban janji politisi dan pemimpin.

Dirgahayu Indonesiaku..
Desa kala (17/8) ditulis dalam semangat kemerdekaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here